Christian Dior Brand Yang Banyak Kisah

Christian Dior Brand Yang Banyak Kisah

daftarmerekdunia.web.id Siapa sih yang gak nolak dikasih Dior ? Tapi apakah kamu sanggup berjalan mengarungi perjuangan Dior sebelumnya ? Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Christian Dior Brand Yang Banyak Kisah. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Christian Dior Brand Yang Banyak Kisah

Rumah Mode Christian Dior merayakan hari jadinya yang ke-70 dengan menggelar pagelaran busana di museum kuno, Les Invalides di Paris, 5-7 Juli 2017. Sejumlah nama tenar di dunia mode tercatat pernah berada dan membesarkan Rumah Mode Christian Dior yang menjadi lambang status dalam pergaulan dunia.

Keberhasilan rumah mode tersebut tentu tak lepas dari kreasi awal si empunya nama, Christian Dior. Perancang mode yang lahir pada 21 Januari 1905 dan meninggal pada 23 Oktober 1957 itu tampil sebagai sosok inspiratif dengan berbagai karya modenya yang mampu menyihir dunia.Namun, semua itu tak lahir dengan mudah. Berbagai kontradiksi sempat mengawali perjalanan hidup Dior. Antara pilihan dan keharusan, begitulah Dior mengayuh langkah selagi muda.Membuat pemberontakan kecil terhadap keluarga dan akhirnya berjuang menghidupi dirinya sendiri hingga sukses dan mengakhiri kejayaan di ujung serangan jantung menjadi penutup perjalanan hidup Dior. Seperti ditulis biography.com, Dior yang mengenyam pendidikan di École des Sciences Politiques ini lahir di Granville, Prancis utara dan meninggal di Montecatini, Italia.

Nama Christian Dior mulai populer pasca Perang Dunia II pada 1947. Popularitas Dior mencuat karena karyanya yang mampu melintasi keterbatasan masa perang dan memunculkan kembali aspek feminin yang kontras di masa itu. Dior menjadikan kemewahan fashion wanita sebagai fokus.Inovasi desain sekaligus terobosan bisnis membuat Dior tampil sebagai perancang busana paling sukses di dunia. Sebelum ajal merenggutnya di usia 52 tahun, Dior berhasil mengukir berbagai prestasi di dunia mode. Busana rancangannya menjadi buruan artis film dan dari aspek bisnis, royalty juga terus mengalir.

Baca Juga : Christian Louboutin Sepatu Dan Kantong Sampah

Semasa muda, ia sudah menunjukkan minatnya pada seni. Anak kedua dari lima bersaudara keluarga Alexandre Louis Maurice Dior, pemilik pabrik pupuk yang sangat sukses, dan Isabelle ini berminat untuk menjadi seorang arsitek. Namun Dior harus tunduk pada keinginan ayahnya.Pada 1925 Dior mendaftarkan diri di École des Sciences Politiques untuk memulai studinya dalam ilmu politik. Orang tuanya ingin Dior menjadi diplomat seusai bekerja. Pemberontakan kecil mulai terjadi setamat kuliah. Setelah lulus pada 1928, Dior membuka sebuah galeri seni kecil dengan modal dari ayahnya.Namun, dukungan keuangan itu disertai syarat. Nama keluarga tidak akan muncul di atas pintu galeri tersebut. Dalam beberapa tahun, galeri Dior menangani karya seniman terkenal seperti Georges Braque, Pablo Picasso, Jean Cocteau, dan Max Jacob.Namun, usaha ini tak berlangsung lama. Pada 1931 Dior terpaksa menutup galeri. Kematian kedua kakaknya, disusul ibunya, juga kehancuran bisnis ayahnya, membuat galeri hanya bertahan setahun. Setelah penutupan galeri, Dior mulai menjual sketsa busana untuk menutupi biaya hidupnya.

Pada 1935, Dior mendapat pekerjaan sebagai ilustrator majalah Figaro Illustré. Beberapa tahun kemudian, Dior bekerja sebagai asisten desain pada desainer asal Paris Robert Piguet. Namun Perang Dunia II membuat Dior harus kembali kehilangan sentuhan dengan dunia seni. Ia malah memasuki dunia yang kontras, menjadi tentara Prancis sebagai perwira militer di selatan negeri itu.Kekalahan Prancis dari Jerman pada tahun 1940 menjadi berkah tersendiri bagi Dior. Ia kembali ke Paris dan bersentuhan lagi dengan dunia seni. Dior bekerja di perancang busana Lucien Lelong. Sepanjang sisa tahun perang, rumah desain Lelong senantiasa mendapat tugas mendandani para wanita kolega pasukan Nazi dan Prancis.Pada masa ini, adik perempuan Dior, Catherine, bergabung dalam kelompok Perlawanan Perancis. Dia ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi tapi selamat dan akhirnya dibebaskan pada tahun 1945.Pengalaman demi pengalaman membuat Dior akhirnya muncul sebagai nama besar di dunia mode hingga akhirnya maut menjemput. Pada 1957, beberapa bulan setelah tampil di sampul majalah Time, Dior pergi ke Italia untuk berlibur ke kota Montecatini. Pada 23 Oktober 1957, ia menderita serangan jantung yang ketiga dan meninggal pada usia 52 tahun.Jenazah Dior dijemput pesawat pribadi Marcel Boussac untuk dimakamkan di Paris. Pemakaman Dior dihadiri sekitar 2.500 orang, termasuk seluruh staf dan banyak kliennya yang paling terkenal. Dia dimakamkan di Cimetière de Callian di Var, Prancis. Pada saat kematiannya, Rumah Mode Dior telah menghasilkan lebih dari USD 20 juta per tahun.

Christian Louboutin Sepatu Dan Kantong Sampah

Christian Louboutin Sepatu Dan Kantong Sampah

daftarmerekdunia.web.id Tidak ada yang menyangka Louboutin sebagai brand internasional menjadi sangat tenar sekarang,tapi sebelumnya punya sejarah. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Christian Louboutin Sepatu Dan Kantong Sampah. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Christian Louboutin Sepatu Dan Kantong Sampah

Christian Louboutin ialah desainer sepatu yang blak-blakan bicara bahwa dirinya membenci kenyamanan. Ia tidak suka menciptakan sepatu ergonomis yang membuat sang pengguna betah mengenakan sepatu berjam-jam tanpa keluhan. Sepatu karyanya memang bisa membuat kaki lecet dan pegal, apalagi ketika pertama kali digunakan. Dasar sepatu tidak empuk, bagian pinggir terasa kaku dan keras, dan sepatu seolah tercipta untuk mereka yang punya telapak kaki ramping. Mengenakan sepatu karyanya ibarat memakai korset pelangsing.Tujuannya membuat sepatu juga serupa dengan alasan terciptanya korset: membuat postur tubuh terlihat lebih baik. Ia punya persepsi tersendiri tentang sepatu. Louboutin beranggapan: ketika memilih sepatu, para wanita tidak fokus ke bentuk, melainkan fokus pada bagaimana postur tubuh atau keseluruhan penampilan ketika mengenakan sepatu. Di benaknya, postur wanita akan tampak lebih baik ketika menggunakan sepatu hak. Maka dia makin yakin untuk jadi desainer sepatu hak.Pria berdarah Mesir yang lahir di Paris ini terobsesi menggambar sepatu wanita berjenis stiletto atau platform dengan hak 10-15 centimeter. Ia sempat berkata pada majalah W bahwa kegemarannya menggambar sepatu hak muncul saat ia berusia 12 tahun. Waktu itu Louboutin terpana melihat sebuah simbol larangan penggunaan sepatu hak di dalam museum karena berisiko merusak lantai ruangan. Dari sana ia mulai rutin menggambar. Salah satu gambar awalnya ialah sepatu dengan dua hak.

Kesan eksentrik itu terbawa hingga ia dewasa. Ketika telah menjadi desainer, kesan tersebut salah satunya nampak pada sol merah sepatu. Dalam sebuah artikel panjang, The New Yorker mengisahkan bahwa pada tahun 1993, Louboutin membuat desain sepatu yang terinspirasi dari lukisan Andy Warhol.Setelah purwarupa sepatu jadi, ia merasa sepatu tersebut belum cukup terlihat menonjol. Ia memikirkan bagian yang harus dibetulkan sambil memandang sekeliling ruang kerjanya. Di dalam ruangan itu ia melihat seorang wanita tengah mengecat kuku dengan kuteks warna merah. Pria yang pernah diberhentikan tiga kali dari sekolah ini lantas punya ide untuk mengecat bagian bawah sepatu dengan kuteks tersebut. Ia puas dengan hasilnya. Sejak saat itu Louboutin memproduksi semua sepatu dengan sol merah, sesuatu yang kelak jadi ciri khas karyanyaSepatu dengan sol merah nampak berbeda dan menjadi tren di kalangan wanita. Merah, bagi Louboutin adalah warna yang menggoda. Produk itu sempat jadi ikon dalam film populer Sex and The City. Louboutin pun jadi salah satu lini sepatu yang laris di kalangan selebritas.

Baca Juga : Richard Mille Pencipta Jam Termewah

Victoria Beckham menggemari sepatu tersebut dan bahkan memakainya saat tengah mengandung. Pertama ketika ia berkunjung ke Disneyland dan saat menghadiri pernikahan Kate Middleton. Buat Victoria, yang penting adalah ia tetap tampil memesona di depan paparazzi dan ia menggantungkan tampilan kasual elegan pada sepatu Louboutin. Jennifer Lopez memilih Louboutin untuk mendesain khusus sepatu untuk konser tunggalnya. Yang tercipta ialah ankle boots berhak dengan detail renda, motif leopard, dan manik-manik metal atau stud. Kate Moss dengan gaya tomboinya melangkah dengan sepatu hak yang berujung runcing.Louboutin mulai membuka layanan pemesanan khusus sekitar 12 tahun lalu. Pada W, dia bilang sempat tidak yakin bisa mendapatkan klien. Nyatanya: sutradara film, penyanyi, juga aktris tersohor datang padanya untuk dibuatkan desain sepatu yang tidak dijual di pasaran. Dia pun lega. Bukan hanya karena mendapat pesanan, melainkan juga bisa membuat ragam desain sepatu dengan berbagai referensi atau ide baru yang datang dari para klien.Bebas dalam mendesain adalah momen yang ia nikmati, itu adalah momen ketika merasa punya tantangan baru dalam berkarya. Seperti ketika ia membuat beberapa sepatu untuk kebutuhan pameran, misalkan. Pada 2012, Donna Loveday, kurator Design Museum London, mengajak Louboutin untuk menggelar ekshibisi di museum tersebut.

“Kami ingin orang mengetahui hal apa yang menginspirasi Christian dalam berkarya,” katanya pada The Guardian .Dalam ekshibisi tersebut, Christian meminta agar ruang pamer dibuat layaknya tata ruang pertunjukan kabaret. Lengkap dengan miniatur komidi putar. “Saya percaya semua wanita ingin menjadi penampil dalam kabaret,” tutur Louboutin. Pameran tersebut menampilkan sekitar 200 sepatu dengan detail bulu, stud, spikes, dan manik-manik yang berkilau.Hiasan-hiasan itu nyaris selalu tampil dalam tiap karya Louboutin. Terutama bila ia mendapat pesanan khusus seperti ketika diminta berkolaborasi dengan Star Wars. Christian diminta untuk mendesain empat sepatu yang mencerminkan karakter perempuan-perempuan dalam Star Wars. Sepatu itu nantinya akan dilelang.Kini ketika namanya terus melambung dengan berbagai tawaran kolaborasi dan permintaan khusus, Louboutin masih punya satu ganjalan. Upayanya untuk mematenkan merek dagang desain sol sepatu merah belum berhasil. Orang-orang di luar sana masih bebas mendesain dan memproduksi sepatu dengan warna serupa dengan Louboutin. Ini membuatnya geram dan merasa tersaingi. Tetapi apa mau dikata, keputusan hakim sudah berkata demikian.

Richard Mille Pencipta Jam Termewah

Richard Mille Pencipta Jam Termewah

daftarmerekdunia.web.id Ngilu sih lihat harganya, tapi yang namanya luxury dan fancy juga exclusive udah kerasa banget dari brand jam yang satu ini.Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Richard Mille Pencipta Jam Termewah. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Richard Mille Pencipta Jam Termewah

DESAINER dan pembuat jam tangan Richard Mille berambisi terus berkreasi hingga berusia 120 tahun.Seperti apa kisahnya membuat jam yang paling prestisius saat ini? Usia bukan halangan untuk berkreasi. Tanyakan hal itu kepada pria bernama Richard Mille. Di usia 50 tahun, Richad Mille seharusnya sudah selesai dengan dirinya sendiri.Di usia itu pria Prancis yang lahir satu hari sebelum hari Valentine pada 68 tahun lalu itu sudah memiliki segalanya. Saat itu dia sudah menjadi seorang CEO di perusahaan perhiasan Prancis, Maubussin.Di tangannya, Mauboussin menjelma menjadi sebuah perusahaan perhiasan yang sangat terkenal di Prancis. Saat itu dia memang sudah berhasil memiliki segalanya. Kekayaan dan harta melimpah sudah dicicipinya di usia itu.Namun, di balik keberhasilan itu, Richard Mille selalu terkenang akan ayahnya yang seorang akuntan. Setiap hari dia terbayang ayahnya yang bekerja keras untuk mendukung kehidupan keluarga kecil Richard Mille.Saking gigihnya, figur ayah jadi sosok yang sangat penting buat Richard Mille. Namun, Richard Mille tahu di balik kegigihan sikapnya, ada satu hal yang selalu membuat ayahnya kerap diam terpaku.

Hatinya seolah tidak ada di ruang keluarga, tapi berpetualang entah ke mana. “Dia seorang akuntan, padahal saya sangat tahu dia sangat ingin menjadi seorang pelaut. Dia ingin berpetualang ke mana saja yang dia suka.Saat itu bekerja di balik meja buat keluarga bagi pria Prancis adalah perjuangan, sekaligus pengorbanan,” ucap Richard Mille. Dari situlah Richard Mille bertekad melepas jabatannya di Mauboussin.Dia tidak ingin terus-terus terjebak dalam rutinitas yang memang tidak dia suka. Meski umurnya tak lagi muda, dia percaya kali ini dia harus mewujudkan mimpinya sejak dulu, yaitu membuat jam bikinannya sendiri.Kecintaan Richard Mille pada jam juga berawal dari ayahnya. Waktu itu ayahnya, yang sudah bekerja keras setiap hari, membelikan satu jam tangan buatnya. Melihat jam tangan itu, Richard Mille senang bukan kepalang.Setiap hari tangannya tidak pernah lepas dari jam tangan hadiah sang ayah. Berawal dari senang, benak Richard Mille kemudian bergerak liar. Dia yakin suatu saat dia akan mampu membuat jam tangan sendiri.Seperti ayahnya, dia ingin orang-orang yang mengenakan jam tangannya akan merasa istimewa dan bahagia. Tujuan inilah yang kemudian membuat Richard Mille sempat masuk ke dalam bisnis jam tangan.

Pada usia 23 tahun dia bekerja di sebuah perusahaan jam tangan lokal Prancis, Finhor. Selama tujuh tahun dia bekerja di perusahaan tersebut. Dia bahkan tetap dipertahankan ketika perusahaan besar Prancis, Matra mengakuisisi Finhor.Waktu itu Matra berencana memiliki anak perusahaan yang bergerak di bisnis jam tangan. Inilah mengapa Richard Mille tetap dibawa saat Finhor bergabung dengan Matra.Sayangnya Matra justru sudah angkat tangan ketika mereka melihat bisnis ini sama sekali tidak menguntungkan buat mereka dan menjualnya ke Seiko. Momen itulah yang membuat Richard Mille sempat patah arang di bisnis jam tangan.Dia akhirnya pindah ke bisnis perhiasan bersama Mauboussin yang kemudian mengantarnya di posisi tertinggi di perusahaan perhiasan Prancis itu. “Suatu saat ketika saya bermain golf, seorang teman menanyakan lagi apa yang saya inginkan di usia yang tidak muda ini.Saya bilang kepadanya saya selalu bercita-cita membuat jam. Dia mengatakan, maka lakukanlah,” kenang Richard Mille. Seolah tersetrum arus listrik ratusan volt, Richard Mille kembali berupaya mewujudkan mimpinya yang tertinggal.Tak tanggung-tanggung dia mempertaruhkan seluruh harta kekayaannya sebagai modal usaha itu. Beberapa orang teman dekatnya justru keheranan dengan kenekatan itu.

Mereka kaget karena bermain di bisnis jam tangan premium bukanlah perkara mudah. Di dunia itu sudah banyak pemain besar yang memiliki tradisi sangat panjang hingga ratusan tahun, seperti Audemars Piguet, Pattek Philippe, Blancpain hingga Rolex.Bagaimana bisa seorang pria Prancis mau menyaingi mereka hanya bermodalkan kecintaannya pada jam tangan? Tidak ambil pusing, Richard Mille langsung membentuk sebuah tim yang terdiri dari anak-anak muda yang punya cita-cita sama, membuat jam terbaik yang pernah ada.Mereka kemudian sama-sama pindah ke Swiss, tempat di mana jam-jam terbaik dibuat. “Saya ingin membuat sebuah jam tangan yang powerful seperti mobil Formula 1,” sesumbar Richard Mille.Untuk memenangi persaingan, Richard Mille sadar bahwa jam buatannya tidak punya sejarah. Desain juga tidak bisa diandalkan karena setiap jam tangan yang ada sekarang saat ini memiliki desain yang abadi.Namun, hal itu dianggapnya sebagai sebuah peluang. Dia melihat saat ini jam tangan premium berada di dunia yang konservatif. Para pemainnya tidak berani keluar dari pakem yang ada.Richard Mille mencoba membuat jam tangan yang unik dan mampu beradaptasi dengan zaman. Tapi itu tidak cukup karena dia perlu senjata lainnya, yakni terobosan.

Baca Juga : Bisnis Rumahan Jadi Brand Internasional

Waktu itu dia pernah mendengar petenis Spanyol Rafael Nadal enggan menggunakan jam tangan saat bermain tenis karena selalu rusak saat dikenakan. Jangankan bertanding, saat berlatih saja dia selalu melepas jam tangannya.“Saat itu jam tangan tourbillon tidak bisa digunakan untuk berolahraga. Saya ingin membuktikan itu salah,” ucapnya. Setelah melalui beberapa percobaan, akhirnya Richard Mille bisa membuat sebuah prototipe jam buatannya yang berkode RM001 Tourbillon.Saat itu dia langsung meminta bantuan salah seorang rekannya yang sudah lama bermain jam tangan, Dominique Guenat. Bersama-sama Guenat, Richard Mille akhirnya berhasil meluncurkan secara resmi jam buatannya, RM001 Tourbillon, ke pasar bebas.Saat peluncuran, Richard Mille bahkan membuat sebuah slogan yang sesuai dengan ambisinya dalam membuat jam, yakni “A Racing Machine on a Wrist”. Ya akhirnya ada jam tangan yang sama powerful-nya dengan mobil Formula 1.Demi eksklusivitas, mereka hanya merilis 14 jam tangan yang uniknya berhasil membuat dunia geger. Jam tangan itu terbukti sangat reliable digunakan di mana saja dan kapan saja. Bahkan saat berolahraga ekstrem.Rafael Nadal bahkan sangat bangga menggunakan jam tangan ini saat bermain tenis. Jam tangan yang supermencolok itu kini bahkan menjadi trademark dari dewa-dewi olahraga dunia.

Beberapa juara dunia telah masuk dalam lingkungan keluarga Richard Mille. Sampai-sampai setiap juara cabang olahraga dunia begitu waswas ketika Richard Mille mengawasi pertandingan atau perlombaan mereka.Ini yang dialami oleh Mark Cavendish, pembalap sepeda profesional yang langsung gemetar ketika bertemu Richard Mille. “Saya seperti bertemu artis besar. Saya sempat tidak yakin ketika dia memberikan jam tangan ini kepada saya,” ujar Mark Cavendish.Bagi Richard Mille, jam tangan yang dia buat memang awalnya dibuat sebagai teman sejalan dalam perjuangan. Menurutnya, setiap orang yang berjuang dalam bidang apa pun akan mengingat momen-momen di mana mereka berhasil meraih kejayaan atau kekalahan.Di situlah waktu akan menjadi terasa berharga karena semuanya akan cepat berlalu. “Membaca waktu yang tepat itu tidak mudah dipelajari. Karena biasanya pelajaran memang selalu datang terlambat,” ucapnya.Inilah mengapa dia terus berupaya membuat terobosan-terobosan baru untuk Richard Mille. Termasuk kerja samanya dengan perusahaan automotif McLaren dalam membuat jam baru.“Jika mungkin saya ingin hidup sama 120 tahun. Tentu saja saya ingin terus berkreasi hingga 120 tahun. Karena masa depan brand ini tidak berhenti di sini saja,” sebutnya.