Merek Pierre Cardin Menjadi Milik Pengusaha Jakarta

Merek Pierre Cardin Menjadi Milik Pengusaha Jakarta – Berikut ini merupakan artikel yang membahas tentang kabar mengenjutkan merek Pierre Cardin yang men jadi milik Pengusaha Jakarta.

Merek Pierre Cardin Menjadi Milik Pengusaha Jakarta

Sejauh 2018, sengketa merk masih memberi warna dunia peradilan Indonesia. Salah satunya sengketa merk Pierre Cardin yang didiagnosa Mahkamah Agung( MA) jadi kepunyaan orang Jakarta.
Permasalahan bermula dikala Pierre Cardin melayangkan gugatan dari 59 reu du Faubourg Saint- Honore, Paris Prancis ke Majelis hukum Niaga Jakarta Pusat( PN Jakpus). Dia menunjuk pengacara Ludiyanto buat menggugat pengusaha lokal, Alexander Satryo Wibowo yang memproduksi benda dengan merk yang sama.
Ludiyanto mendalilkan kalau kliennya ialah desainer yang diketahui dunia.
Pierre Cardin dari Prancis kaget menciptakan merk seragam di Indonesia buat kelas yang sama yang dibuat Alexander Satryo Wibowo. Tidak terima, Pierre Cardin Prancis menggugat Alexander Satryo Wibowo yang beralamat di Kayu Putih, Jakarta Timur.
Tetapi apa energi, Majelis hukum Niaga Jakarta Pusat menolak gugatan tersebut pada 9 Juni 2015. Pierre Cardin asal Prancis tidak terima serta mengajukan kasasi. Tetapi kasasi itu ditolak MA.
Merasa lebih berhak, Pierre Cardin mengajukan upaya hukum luar biasa dengan mengajukan PK. Tetapi apa kata MA?
” Menolak permohonan PK Pierre Cardin,” putus MA pada September 2018.
Duduk bagaikan pimpinan majelis Soltoni Mohdally dengan anggota Sudrajad Dimyati serta Panji Widagdo. Ketiganya menolak PK dengan alibi permasalahan itu sempat digugat pada tahun 1981 serta ditolak.
” Bagi hukum, penggugat tida diperbolehkan lagi buat mengajukan gugatan ini,” ucap majelis.
Dari keenam hakim agung yang menanggulangi permasalahan ini( 3 di tingkatan kasasi serta 3 di tingkatan PK), hakim agung Nurul Elmiyah tidak sepakat Pierre Cardin kepunyaan orang Jakarta. Dia beralasan merk Pierre Cardin telah populer di bermacam negeri serta merujuk nama desainer Prancis.
” Merk dagang sesuatu produk tidak cuma bermakna semata- mata nama ataupun tulisan, hendak namun lebih jauh pula memiliki makna serta iktikad yang bisa berhubungan langsung dengan produk yang bersangkutan. Di samping itu merk yang tertulis pada sesuatu produk pula bisa ialah karakteristik pembeda dari wilayah mana( dalam negara) ataupun dari negeri mana( luar negara) asal- usul produk tersebut,” kata Nurul.
Dalam perkawa a quo, nama Pierre Cardin yang ialah nama asli Penggugat, sebaliknya nama ataupun tulisan produk yang digunakan Terguguat( Alex) pula Pierre Cardin yang teruji sama pada pokoknya.
” Serta teruji pula kedua nama ataupun tulisan tersebut bukan ialah bahasa ataupun tulisan dalam bahasa Indonesia, hendak namun ialah bahasa ataupun tulisan dalam bahasa asing yang ialah bahasa negeri asal Penggugat,” ucap hakim agung yang pula dosen UI itu.
Tetapi, suara Nurul kalah dengan hakim agung yang lain. Pierre Cardin juga jadi merk kepunyaan orang Jakarta.